logo

Carry (?) - Gazette - 14/??




bagarahnyo

Carry (?) - Gazette - 14/??


Tags: the gazette reita kai fanfic aoi ruki uruha

Published : 1 month, 3 weeks ago (Tue, 07 Oct 2008 07:59:49 PDT)
Searched: ruki
http://bagarahnyo.livejournal.com/7918.html  0 links
Related posts

Staring: GazettE boys
Warning: writen in Indonesian
Chap: 14/??
genre: romance tampaknya...
rating: PG

Disclaimer :

Cerita dibawah ini meminjam karakter dan jati diri personel band The GazettE. I’m not them, I do not own them either, and I don’t have any relationship with them. The story below just from my head and pure fiction. Tidak merusak lingkungan dan dijamin just for fun.

~.~.~.~.~

 

Penjelasan dr. Hideto Takarai membuat Reita merana. Pantas saja dia panik begitu, ternyata…

Ia sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit itu lagi. Jam dinding di rumah sakit itu menunjukkan pukul delapan pagi. Reita sudah pulang ke rumahnya—mandi dan sarapan, mengabaikan rentetan pertanyaan Uruha yang baru bangun tidur—lalu kembali lagi ke rumah sakit. Hari ini hari Minggu dan ia tidak masuk kantor.

Rumah sakit sepi dan lengang, membuat Reita merasa semakin resah. Tes darahnya akan keluar hari ini, jadi ia belum tahu apakan ia ketularan AIDS atau tidak. Tapi entah mengapa itu tidak meresahkannya, ia kini hanya meresahkan Ruki yang terbaring di UGD. Sama sekali belum sadar.

Sebuah tepukan di pundahknya membuat Reita terlonjak. Senyum ramah dr. Hideto Takarai menyambutnya.

“Cemas?” tanya dokter itu. Reita meringis.

“Ya…” ujarnya lemah.

“Belum tentu Anda akan ketularan.”

“Aku bukan mencemaskan tes darah, aku mencemaskan Ruki.” Ujar Reita. Si dokter menarik nafas dan menepuk pundak Reita lagi dengan maklum.

“Sabar, jika dia siuman akan kami beritahu.” Ujar dr. Hideto Takarai.

“Terima kasih.” Ujar Reita.

“Saya tinggal dulu?” Reita mengangguk dan mengawasi kepergian dokter itu, menghilang di balik pintu ruang prakteknya.

 

Jam satu siang, Reita berakhir di sebuah kafetaria di rumah sakit itu. Ruki belum juga sadar dan hasil tes darahnya sudah keluar.

Negatif.

Reita bersyukur ia tidak perlu mengemban beban yang berat lagi, sudah cukup hanya dengan keresahan tentang Ruki.

Setelah menghabiskan teh hangat yang dipesannya, Reita kembali ke ruang tunggu dan mendapati dr. Hideto Takarai baru keluar dari ruang UGD. Dokter itu tersenyum pada Reita.

Ruki sudah sadar dan sudah dipindahkan ke bagian rawat inap. Dan dia ingin bertemu dengan Anda.”

 

Reita melesat ke ruang rawat inap. Di depan pintu ruangan Ruki, ia mengatur nafas dan mengatur wajahnya. Mengangguk mantap menyemangati diri sendiri, Reita mengetuk pintu putih polos itu.

Seorang suster membukakan pintu dan tersenyum padanya. Di tangannya terdapat clipboard dan seorang suster lain sedang mengecek infus di tangan Ruki yang terbaring pucat. Ruki menoleh padanya dan Reita sudah menyiapkan senyumannya yang paling cerah.

“Gimana keadaan kamu, Ru?” tanya Reita setelah ia masuk dan berdiri di samping tempat tidur Ruki. Suster-suster itu keluar, meninggalkan mereka berdua saja, dan Reita dapat melihat Ruki memaksakan sebuah senyum.

“Aku baik. Kamu? Gimana tes darah kamu?” tanya Ruki. Reita terkejut, ia tidak menyangka Ruki akan tahu.

“Eh, itu… ya, negatif.” Jawabnya. Ruki tersenyum lagi, dan bibir yang biasanya basah dan berkilau itu kini pucat dan kering. Kemudian ia menutup matanya dan menarik nafas.

“Maaf, Rei…” ujarnya pelan.

“Kenapa?”

“Aku ngga ngasih tau kamu…”

“Ngga pa-pa Ru, itu hak kamu. Lagi pula, aku bukan sia-”

“Bukan! Bukan itu maksudku! Aku… aku… aku tidak mungkin meneleponmu kalau kamu memang bukan siapa-siapa buatku, Reita! Cuma kamu yang ada di kepalaku semalam dan ngga kepikiran buat minta tolong ke siapa-siapa. J-jadi…” Ruki tiba-tiba histeris, matanya berair dan Reita panik.

“Tenang, Ruki… oke, maaf. Aku ngga masalah kok, jangan…”

“Kamu berarti Rei… sangat berarti…” isak Ruki dan betapa Reita ingin memeluk tubuh pucat itu. Tapi ia takut akan menyakiti Ruki, melihat jarum infus yang menyakitkan itu tertanam di kulitnya. Maka ia hanya menggenggam tangan Ruki yang tidak berinfus dan Ruki meremas tangannya.

Diam lama di antara mereka.

“Maaf, Ruki… se-”

“Bukan, aku yang harus minta maaf.” potong Ruki, ia sudah lebih tenang. “Dan terima kasih, Reita. You are my savior…” ujar Ruki, senyum manis itu keluar lagi. Reita menarik nafas dan menggenggam tangan Ruki lebih erat, balas tersenyum.

“Jadi, bagaimana kejadiannya? Kenapa kamu tiba-tiba begitu?” tanya Reita, duduk di kursi di samping tempat tidur Ruki. Ruki mengangkat bahu.

“Ngga tau. Tiba-tiba perutku mulas dan aku muntah—bukan cuma muntah, tapi muntah darah juga, lalu mimisan trus batuk darah.” Ujar Ruki seolah menjelaskan bagaimana ia jatuh dari sepeda. Nadanya ringan sekali. Reita berusaha menahan gidikan.

“Kenapa bisa tiba-tiba?” tanyanya, menjaga nada. Ruki mengangkat bahu lagi.

“Kemungkinan ada infeksi.”

“I-infeksi?”

“Iya, bisa infeksi pencernaan dan infeksi paru-paru…” Ruki berhenti karena mendengar Reita terisak. “R-Reita?” ujarnya bingung.

“A-aku… ka-kamu… ya tuhan, Ruki…” tangis Reita pecah. Ia sesenggukan, membenamkan kepalanya di kasur di samping Ruki, tidak bisa mengerti mengapa ia merasa begitu melankolis.

“Reita…” panggil Ruki pelan. Reita mengangkat kepalanya dari kasur dan menatap Ruki dengan mata membanjir.

“A-adakah yang bisa kulakukan buatmu, Ruki? Kamu menderita, bisakah-” jari Ruki menghentikan kalimat Reita.

“Siapa bilang aku menderita?”

“Keadaan kamu, penyakit kamu…. Kamu berdarah-darah, pucat, dingin, kaku dan aku hampir mati ketakutan karena kupikir aku bakal kehilangan kamu…”

“Rei…”

“I love you, Ruki! I love you ‘till my breath hitch! I don’t want to loose you!” kata-kata itu meluncur licin dari mulut Reita dan membekukan seluruh tulang Ruki. Reita kembali terisak dan menelungkup meredam tangisnya. Ruki tercenung.

Reita baru saja mengungkapkan perasaannya.

So… this is that kiss all about….

“Reita, aku…” Ruki ragu ia harus mengucapkan apa. Reita mengangkat kepalanya.

“Please don’t say that you want me to go…” ujarnya putus asa, “Please… let me stay… don’t ask me to leave you…” menggenggam tangan Ruki begitu kuat seakan ia akan sekarat jika melepaskan tangan pucat itu.

“No, I wouldn’t.” Ujar Ruki tersenyum. Reita sedikit tersedak oleh air matanya.

“R-really?” Ruki mengangguk.

“I don’t want you to go… please stay…”

 

== to be continue??

A/N: oh Ruru~~ oh Reirei~~ T^T you’re so sappy! Both of you, sappy!!! *betul2 penulis ngga punya kaca!!*

Sapi: ngapain lw manggil2 gw?

Nyo: sapa yang manggil lw?

Sapi: itu tadi? Sapi~ sapi~ gitu…

Nyo: SAPPY, botol! Over-sentimental! Bukan sapi. Kalo lw mah COW, bukan SAPPY!!! *tendang sapi*



bagarahnyo

More results for "ruki"


This is cached version of livejournal post retrieved by LjSEEK on 2008-10-07 13:05:21 . Post may have changed since that time. Click here for actual post version. LjSEEK.COM is not affiliated with author of this post and is not responsible for its content.
These search terms have been highlighted: ruki
Disable Highlighting
bagarahnyo's Search:
Get your own code!
Copyright © 2005,2006 ljseek.com This service is not affiliated with LiveJournal.com
Design by Steorra.com